SAMARINDA – Menjelang berakhirnya masa jabatan, Ketua Umum KONI Kaltim Rusdiansyah Aras berupaya meninggalkan fondasi penting bagi keberlanjutan olahraga prestasi di Benua Etam.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Diskusi Besar Olahraga Prestasi Kaltim yang digelar bersama Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LEKOP) Kaltim di Kolam Ulin Arya, Samarinda, Selasa (2/6). Forum itu menjadi ruang bertemunya akademisi, praktisi olahraga, pemerintah, dan pemangku kebijakan untuk merumuskan arah pembangunan olahraga Kaltim empat tahun ke depan.
Bagi Rusdiansyah, forum tersebut bukan sekadar agenda menjelang berakhirnya masa jabatan atau Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Kaltim. Diskusi itu disiapkan sebagai warisan pemikiran yang dapat menjadi pedoman bagi kepengurusan periode 2026–2030.
“Kita harus memastikan estafet kepemimpinan tidak hanya berpindah orang, tetapi juga membawa arah yang jelas. Karena itu, seluruh masukan dalam forum ini diharapkan menjadi referensi bagi pengurus berikutnya,” ujar Rusdi, begitu dia disapa.
Menurutnya, olahraga prestasi Kaltim membutuhkan transformasi menyeluruh. Persaingan antar daerah semakin ketat, sementara kemampuan fiskal pemerintah daerah diperkirakan tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu.
Karena itu, pembinaan atlet tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional atau hanya fokus menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON). Semua harus berbasis data, sistem, dan target yang terukur.
Selama memimpin KONI Kaltim, Rusdi mulai mendorong digitalisasi pembinaan melalui pengembangan basis data atlet, pemantauan prestasi, hingga monitoring penggunaan anggaran. Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya membangun sistem pembinaan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim Muhammad Faisal. Dalam diskusi itu, Faisal mengingatkan bahwa olahraga Kaltim harus mulai beradaptasi dengan kondisi keuangan daerah yang berubah.
Menurut dia, penurunan APBD Kaltim dalam beberapa tahun terakhir menjadi sinyal bahwa pembinaan olahraga tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
“Dulu APBD kita berada di kisaran Rp20 triliun sampai Rp25 triliun. Sekarang turun menjadi sekitar Rp14 triliun dan tahun depan diprediksi sekitar Rp12 triliun. Artinya, kita harus mulai berpikir bahwa KONI bukan lagi satu-satunya sumber pembiayaan prestasi olahraga,” katanya.
Faisal menilai gagasan yang dibangun Rusdiansyah melalui forum tersebut menjadi penting karena memberikan gambaran tantangan yang akan dihadapi kepengurusan mendatang.
Selain persoalan pembiayaan, ia juga mendorong agar cabang olahraga lebih fokus membangun prestasi dan memperkuat organisasi secara mandiri.
Dukungan serupa disampaikan praktisi olahraga Rusman Ya’qub. Anggota DPRD Kaltim itu menilai keberhasilan organisasi olahraga tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga kualitas tata kelola dan kepemimpinan.
Menurut dia, kepengurusan KONI berikutnya harus melanjutkan semangat pembinaan yang sudah dibangun sekaligus memperkuat profesionalisme organisasi.
“Jangan sampai KONI menjadi tempat menitipkan orang yang tidak memahami olahraga. KONI adalah tempat pengabdian dan perjuangan untuk kemajuan olahraga,” tegas Rusman.
Sementara itu, akademisi olahraga Rohadi menambahkan bahwa Kaltim masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Berdasarkan hasil kajian Indeks Pembangunan Olahraga (IPO), tantangan utama masih berada pada aspek ketersediaan ruang olahraga, kualitas sumber daya manusia, dan tingkat kebugaran masyarakat.
Karena itu, menurut Rohadi, penguatan sport science, peningkatan kompetensi pelatih, serta pembangunan ekosistem olahraga yang lebih baik harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Berbagai pandangan yang mengemuka dalam diskusi tersebut dirangkum sebagai bahan penyusunan cetak biru olahraga prestasi Kaltim. Dokumen itu diharapkan menjadi pijakan bagi kepengurusan KONI Kaltim berikutnya dalam menyusun program dan kebijakan pembinaan.
Di penghujung masa jabatannya, Rusdi tampaknya tidak hanya ingin dikenang melalui capaian prestasi atau raihan medali. Ia juga ingin meninggalkan sistem dan arah pembangunan yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Diskusi besar olahraga prestasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan itu menjadi salah satu legacy yang disiapkan Rusdi untuk memastikan olahraga Kaltim tetap menjadi kekuatan nasional, meski menghadapi tantangan yang semakin kompleks di masa depan. (*)