SAMARINDA – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur menggandeng Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Kaltim menggelar diskusi olahraga strategis pada Selasa, 2 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Kolam Ulin Arya, Jalan PM Noor, Samarinda, itu disiapkan untuk merumuskan cetak biru serta exit strategy demi menjaga tradisi prestasi Benua Etam di level nasional.
Gagasan tersebut lahir dari pemikiran tokoh olahraga senior Kaltim sekaligus mantan pejudo nasional dan Ketua Harian PB PJSI, Achmad Husry. Ide itu kemudian dibahas bersama Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras saat Kejurnas Judo Piala Kapolri di GOR Segiri Samarinda, Senin (18/5).
Rusdi -sapaan Rusdiansyah- membenarkan rencana tersebut. Menurutnya, forum itu akan menghadirkan sejumlah narasumber yang dinilai kompeten di bidang olahraga prestasi. Selain Achmad Husry, diskusi juga menghadirkan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim Rasman Rading, pakar olahraga Rohandy, serta Ketua Pengprov Boling Indonesia (PBI) Kaltim Rusman Yakub.
“Undangan sudah mulai disebar oleh KONI dan panitia dari LeKOP. Kami berharap minimal 75 persen dari total undangan dapat hadir agar menghasilkan dinamika pemikiran yang kaya,” ujar Rusdi, Rabu (27/5).
Ia menegaskan, seluruh hasil diskusi nantinya akan dijadikan rekomendasi kerja bagi pengurus KONI Kaltim masa bakti 2026–2030.
Rusdi menjelaskan, arah olahraga prestasi Kaltim menuju PON XXII/2028 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, dengan klaster pendukung di Jakarta, berada pada fase yang sangat menentukan.
“Dengan adanya transisi kepemimpinan organisasi dan dinamika fiskal daerah, Kaltim menghadapi tantangan besar. Kita harus mampu memetakan strategi agar tradisi papan atas di tingkat nasional tetap terjaga,” kata mantan Direktur Kaltim Post tersebut.
Dalam diskusi nanti, sedikitnya lima poin strategis akan dibahas mendalam. Pertama, tantangan desentralisasi tiga klaster PON 2028 yang dinilai membuat pengelolaan kontingen semakin kompleks, mulai dari akomodasi hingga pemulihan atlet.
Kedua, rasionalisasi anggaran dan inovasi pendanaan. KONI Kaltim menilai fluktuasi dana daerah menuntut efisiensi berbasis output sehingga pola pembinaan harus lebih fokus pada kualitas.
Ketiga, pengetatan passing grade atau zona medali. Kaltim berencana menerapkan seleksi ketat dengan hanya mengirim atlet atau nomor pertandingan yang memiliki peluang medali.
Keempat, maksimalisasi cabang olahraga unggulan, khususnya rumpun beladiri seperti gulat, kempo, pencak silat, taekwondo, karate, tarung derajat, dan muaythai yang selama ini menjadi penyumbang utama medali emas Kaltim.
Kelima, penerapan sport science pasca-Porprov Kaltim VIII/2026 Paser. Ajang tersebut akan dijadikan laboratorium utama untuk menyaring atlet berdasarkan data objektif dan kesiapan fisik maupun mental sebelum menjalani pemusatan latihan jangka panjang.
Menutup penjelasannya, Rusdi menilai perubahan peta jalan olahraga ini menjadi ujian penting bagi kesinambungan prestasi Kaltim.
“Fondasi yang dibangun hari ini harus bertumpu pada transparansi, objektivitas data, dan integrasi antara KONI, Dispora, serta pengurus cabang olahraga. Karakter petarung Benua Etam hanya bisa bersinar di NTB dan NTT jika keputusan taktis yang rasional dan efisien mulai diterapkan sekarang,” pungkasnya. (*)