SAMARINDA. Atlet pencak silat Kaltim Iqbal Candra Pratama menyoroti terputusnya pembinaan atlet setelah pesta olahraga berakhir, yang dinilai menghambat regenerasi sekaligus menurunkan kualitas prestasi.
Kritik itu datang dari atlet yang menjadi salah satu pesilat paling berprestasi milik Kaltim. Iqbal, peraih emas Asian Games, juara dunia, dua kali peraih emas PON, serta juara SEA Games itu menekankan, banyak atlet Kaltim kehilangan program latihan setelah menyelesaikan ajang nasional. Mereka baru kembali dikumpulkan menjelang kejuaraan berikutnya.
Dampaknya selain penurunan performa atlet, juga membuat regenerasi pesilat Kaltim semakin tersendat. Masa jeda satu hingga dua tahun membuat atlet senior terus mendominasi, sedangkan atlet muda kesulitan berkembang.
“Keluhannya sampai saat ini ya itu. Selalu ada fase terputus untuk kami atlet. Kebetulan saya selalu dipanggil Pelatnas jadi pembinaan saya tidak terputus. Sedangkan adik-adik yang lain selesai PON setahun sampai dua tahun tidak ada pembinaan. Mereka harus latihan mandiri," katanya, Selasa (28/7/2026).
Kondisi ini paling dirasakan atlet yang tidak masuk program pemusatan latihan nasional. Atlet peraih medali perak maupun perunggu PON harus berlatih sendiri tanpa program yang berkelanjutan.
Tanpa dukungan nutrisi dan program latihan yang terarah, performa atlet perlahan menurun sehingga harus membangun kembali kondisi fisik ketika memasuki persiapan kejuaraan berikutnya.
“Kalau mereka tidak dikasih asupan yang bagus, nutrisinya tidak bagus, otomatis ada penurunan dibanding performa mereka pada PON sebelumnya. Mereka mengulang lagi saat mau Porprov baru mulai latihan,” beber Lulusan SKOI Kaltim yang mulai berlatih sejak 2010 itu.
Pembinaan seharusnya langsung berlanjut setelah PON selesai. Program latihan tidak harus selalu berupa pemusatan latihan penuh, tetapi dapat dilakukan melalui training camp mandiri maupun skema pembinaan lain agar perkembangan atlet tetap terpantau.
"Kalau memang ingin prestasi maksimal, setelah PON langsung pembinaan lagi. Langsung pemusatan latihan lagi, entah TC mandiri atau bentuk lain. Regenerasi atlet Kaltim akan terus berjalan kalau pembinaannya tidak putus," ujarnya.
Iqbal mengaku dirinya tidak mengalami persoalan tersebut lantaran langsung bergabung dengan Pelatnas usai PON Aceh-Sumut 2024. Selepas itu ia kembali tampil pada kejuaraan dunia sehingga ritme latihannya tetap terjaga.
Situasi berbeda dialami rekan-rekannya.
Ditegaskannya lagi, kesinambungan latihan menjadi alasan performanya tetap terjaga.
“Saya beruntung. Setelah PON saya langsung dipanggil Pelatnas. Jadi latihan saya terus. Sedangkan adik-adik saya selesai PON hilang, nanti kumpul lagi menjelang Porprov. Target kita jangan cuma itu-itu saja, apalagi turun,” tegasnya.
Sorotan serupa disampaikan pelatih pencak silat Kaltim, Asdar, Ia menilai daerah-daerah yang konsisten mendominasi pencak silat nasional menjalankan pembinaan jangka panjang tanpa jeda hingga empat tahun menuju PON berikutnya.
Ia menyebut DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mampu menjaga dominasi karena atlet tetap berlatih sepanjang siklus empat tahunan menuju PON berikutnya.
Hal itu berbeda dengan Kaltim yang masih mengalami jeda pembinaan akibat keterbatasan anggaran.
"Setelah event besar seperti PON mereka latihan terus sampai PON berikutnya. Kita masih ada fase berhenti. Anak-anak butuh TC jangka panjang supaya bisa dimonitor," ujarnya.
Ia mencontohkan dampak minimnya persiapan terlihat pada babak Pra-PON. Dari 23 kelas yang dipertandingkan, Kaltim hanya meloloskan sembilan kelas. Persiapan yang singkat membuat pelatih kesulitan memantau perkembangan atlet yang berlatih di daerah masing-masing.
Asdar menilai pembinaan jangka panjang harus menjadi pekerjaan pertama yang dibenahi apabila Kaltim ingin kembali bersaing di level nasional.
“Kalau ingin lebih baik, yang harus dijaga hubungan pengurus, pelatih, dan atlet. Lalu latihan jangka panjang jangan sampai putus,” ucapnya.
Terlepas soal pembinaan, Iqbal juga menyoroti kebutuhan peningkatan sarana latihan. Meski bersyukur pencak silat sudah memiliki gedung sendiri di Samarinda, Folder Air Hitam, ia menilai fasilitas yang ada masih belum setara dengan standar yang digunakan atlet nasional di Pelatnas.
Fasilitas itu belum sepenuhnya menjangkau atlet berprestasi dari daerah lain seperti Bontang dan Kutai Kartanegara.
“Kami memang sudah punya tempat latihan, tapi kalau dibanding standar Pelatnas masih kurang. Peraih medali PON juga bukan cuma dari Samarinda, ada dari Bontang dan Kutai Kartanegara,” akuinya. (upi/fahri/hms.koni)